senang atau sedih

Merasa sayang melihat tumpukan karung goni bekas di sebuah toko grosir bahan pangan, itulah awal kami bersahabat lebih dekat dengan karung apek ini.

Tadinya juga tidak tahu mau dijadikan apa. Awalnya kami jadikan sampul buku terbitan sendiri. Lalu seorang teman mendorong kami membuat tas, kebetulan tas goninya rusak. Itulah permulaannya…

Dari membeli karung bekas kami jadi tahu, ternyata kita masih banyak mengimpor kacang tanah dari Afrika dan India. Sekarang ini, kacang tanah lokal sedang melimpah. Toko langganan kami pun tak lagi punya goni. Kacang tanah lokal cukup pakai bagor plastik.

Ah… mau ikut senang atau sedih, ya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s