Category Archives: Uncategorized

Ada kancingnya

Variasi atau inovasi selalu diupayakan. Meskipun hanya kecil saja. 

Karena kecil, sederhana itu berarti!

Advertisements

Memberi jiwa

Saya pernah dengar pernyataan lakukan peranmu dengan penuh penjiwaan. Pernyataan ini rupanya berlaku tak hanya ketika sedang berperan di sebuah sandiwara.

Memberi jiwa membuat sesuatu yang dikerjakan memiliki makna tak sekedar kesibukan dan asal jalan. Rasanya tak mudah melakukannya ketika yang dikerjakan adalah hal yang itu-itu saja dan berulang. 

Saya mencoba menerapkannya ketika menjahit Gunagoni. Alat ukur seperti penggaris atau meteran tidak saya gunakan. Jemari serta telapak tangan saya gunakan sebagai alat ukur. Hasilnya jelas tidak akurat dan presisi dibandingkan dengan alat ukur.

Ketidakpersisan ukuran setiap produk menjadikannya spesial. Perlakuan setiap produk menjadi individual. Tidak ada yang persis sama. 

Meskipun tidak sempurna bahkan presisi dalam ukuran. Mereka tetap punya bentuk dengan rasa yang khas di setiap produknya. Hasilnya, setiap produk seperti memiliki jiwa. 

Warna alami

Gunagoni memilih untuk tidak memberi warna pada produknya. Apa adanya warna alami. Jika ada tulisan atau gambar, sudah ada dari goni bekasnya. 

Dipilih jalan memunculkan karakter asli goni bekas. Tidak menutup-nutupi asal muasal bahan yang digunakan juga proses pembuatan produk Gunagoni.

Menjadi apa adanya kadang kita merasa takut. Kurang  percaya diri. Padahal itu bentuk kejujuran. Kenapa?

Menjajal sandal

Menekuni goni lama-kelamaan menggelitik diri ini untuk utak-atik kreasi lain. Kalau mungkin kreasi apa pun dibuat berbahan dasar goni.

Kali ini menjajal sandal. Sebelumnya pernah mencoba membuat. Namun, belumlah nyaman. Saya tinggalkan beberapa bulan tidak saya teruskan.

Di suatu kesempatan saya putar-putar kota Yogyakarta. Menjumpai sentra kerajinan kulit. Rupanya di sinilah tempat pengrajin sandal-sandal yang selalu ada di Malioboro.

Tidak selalu kulit yang dibuat di sini. Bahan batik, tenun, juga kulit imitasi dipakai untuk bahan sandal. 

Singkat cerita, saya bertemu Pak Seger. Kurang lebih sudah 30 tahun menjadi pengrajin sepatu dan sandal. Menurutnya, sepatu atau sandal yang bagus itu yang nyaman dipakai. Kemudian pengerjaannya rapi, kuat juga awet. “Sayangnya bahan baku sekarang tidak sebaik dulu,”begitu keluhnya. 

Saya sedikit bercerita kalau pernah membuat sandal tetapi tidak nyaman dipakai. “Pakai pola kaki kayu ini mas supaya pas,” kata Pak Seger mantap. Rupanya memang khusus ada beberapa set ukuran pola kaki kayu. Untuk perempuan dan laki-laki ukuran polanya berbeda. Untuk anak-anak juga ada polanya sendiri.

Langsung saja saya tawarkan Pak Seger untuk membuat sandal dari bahan goni bekas. Tidak pikir panjang disanggupinya tawaran saya ini. Hasilnya adalah foto-foto sandal goni di atas.

Terima kasih Pak Seger. Telah membantu terwujudnya sandal dari goni bekas ini. 

Terima kasih pula untuk siapa saja yang sudah mengapresiasi sandal goni ini.