Warna alami

Gunagoni memilih untuk tidak memberi warna pada produknya. Apa adanya warna alami. Jika ada tulisan atau gambar, sudah ada dari goni bekasnya. 

Dipilih jalan memunculkan karakter asli goni bekas. Tidak menutup-nutupi asal muasal bahan yang digunakan juga proses pembuatan produk Gunagoni.

Menjadi apa adanya kadang kita merasa takut. Kurang  percaya diri. Padahal itu bentuk kejujuran. Kenapa?

Advertisements

Menjajal sandal

Menekuni goni lama-kelamaan menggelitik diri ini untuk utak-atik kreasi lain. Kalau mungkin kreasi apa pun dibuat berbahan dasar goni.

Kali ini menjajal sandal. Sebelumnya pernah mencoba membuat. Namun, belumlah nyaman. Saya tinggalkan beberapa bulan tidak saya teruskan.

Di suatu kesempatan saya putar-putar kota Yogyakarta. Menjumpai sentra kerajinan kulit. Rupanya di sinilah tempat pengrajin sandal-sandal yang selalu ada di Malioboro.

Tidak selalu kulit yang dibuat di sini. Bahan batik, tenun, juga kulit imitasi dipakai untuk bahan sandal. 

Singkat cerita, saya bertemu Pak Seger. Kurang lebih sudah 30 tahun menjadi pengrajin sepatu dan sandal. Menurutnya, sepatu atau sandal yang bagus itu yang nyaman dipakai. Kemudian pengerjaannya rapi, kuat juga awet. “Sayangnya bahan baku sekarang tidak sebaik dulu,”begitu keluhnya. 

Saya sedikit bercerita kalau pernah membuat sandal tetapi tidak nyaman dipakai. “Pakai pola kaki kayu ini mas supaya pas,” kata Pak Seger mantap. Rupanya memang khusus ada beberapa set ukuran pola kaki kayu. Untuk perempuan dan laki-laki ukuran polanya berbeda. Untuk anak-anak juga ada polanya sendiri.

Langsung saja saya tawarkan Pak Seger untuk membuat sandal dari bahan goni bekas. Tidak pikir panjang disanggupinya tawaran saya ini. Hasilnya adalah foto-foto sandal goni di atas.

Terima kasih Pak Seger. Telah membantu terwujudnya sandal dari goni bekas ini. 

Terima kasih pula untuk siapa saja yang sudah mengapresiasi sandal goni ini.

Kenapa memilih goni bekas?

Goni bekas punya cerita yang panjang. Apalagi kalau goni itu bisa menceritakan sendiri pengalamannya.

Saya hanya mencoba membayangkan perjalanan dan pengalamannya. Berawal dari panenan serat rosela atau rami. Pindah tangan ke para pemintal, kemudian penjahit karung goni.

Perjalanan berlanjut, goni dipakai eksportir hasil bumi sebagai wadah. Sampai negara pembeli wadah dibuka. Dikumpulkan.

Karung goni menjadi limbah dari wadah hasil bumi. Ada yang masih mengkaryakan sebagai wadah karena umur pakainya cukup lama. Asal tidak sobek atau bolong.

Ada lagi pengepul karung goni bekas kemudian dijual lagi. Goni fungsinya tidak lagi cuma wadah, kerap untuk menutupi permukaan jalan yang terbuat dari beton pada proses pengeringannya. 

Goni bekas digunakan untuk kerajinan juga. Contohnya dijadikan keset, tas, topi, dompet dan bentuk lain. Seperti yang Gunagoni lakukan.

Sekali lagi kenapa memilih goni bekas karena ada perjalanan dan tak hanya satu orang yang dihidupi oleh perjalanan karung goni.

Singkatnya, meskipun goni bekas, dia menghidupi sekian banyak orang…termasuk Gunagoni